Rabu, 07 November 2012

Sang Putri dan Si Miskin - The Princess and The Pauper



oleh Kate Brian

Sinopsis

Julia Johnson tidak seperti murid lain di Rosewood. Dia naik sepeda ke sekolah, bukan BMW. Dia pulang ke apartemen lusuh yang ditinggalinya bersama ibu dan kucingnya yang berkutu. Sementara cewek lain terobsesi pada kunjungan sang putri, Julia mati-matian berusaha mencari uang supaya tidak didepak dari apartemen jeleknya.

Lalu Carina, Putri Mahkota Vineland, datang ke Rosewood untuk berpidato, dan Julia menemukan jalan keluar dari masalahnya. Ia sangat mirip Putri Carina. Saat Carina menawarinya sepuluh ribu dolar untuk berpura-pura jadi dirinya, Julia tidak dapat menolak.

Tapi saat sang putri tidak muncul kembali, Julia terjebak ikut pulang ke Vineland. Berapa lama sebelum samarannya terbongkar? Apa yaang harus dilakukannya untuk mencegah dirinya jatuh cinta pada cowok yang nyaris menjadi tunangan Carina? Dan bagaimana dia bisa menjelaskan semua ini pada ibunya?




The Princess in Me

 

oleh: Donna Rosamayna

Sinopsis


Ada tiga hal yang sangat disesali Pri dalam kehidupannya: namanya, bentuk tubuhnya, dan kampusnya.

Andai Papa dan Mama tidak menamakannya “Princess”, pasti tidak ada seorang pun yang menertawakannya saat dosen sedang mengabsen. Kalau bentuk tubuhnya indah seperti Ditya, sahabatnya, pasti Ryan tidak akan menjatuhkan pilihan pada Vivian, cewek cantik yang angkuh itu. Dan, kalau saja Papa miliuner, tentu Pri bisa kuliah di jurusan fashion design yang lumayan mahal itu, bukannya di fakultas hukum yang setengah mati membosankan ini.

Tapi, segala sesuatu yang dimiliki seseorang akan terus dibawa sampai mati, kan? Buat apa disesali? Yang bisa kita lakukan hanyalah menerima kenyataan atau berusaha mengubahnya. Dan Pri memutuskan untuk melakukan pilihan yang kedua.

Darling Boys

oleh: Kate Saunders

Sinopsis


Cassie Shaw menjalani hidup yang terorganisir: pekerjaan bagus, pacar baik-baik, flat milik sendiri. Namun, sebagian hidupnya jauh dari terorganisir, yaitu rasa cintanya terhadap keluarga Darling yang lain dari yang lain dan kadang-kadang membuat sinting: teman masa kecilnya, Fritz dan Ben, serta ibu mereka, Phoebe, yang membesarkan Cassie dan mengubah hidupnya.

Tapi kini Phoebe sakit dan meminta tolong khusus kepada Cassie. Khawatir atas apa yang akan terjadi pada putra-putra tercintanya setelah kematiannya, ia ingin Cassie mencarikan istri bagi mereka. Cassie tidak bisa menolak, namun itu permintaan yang sulit. Fritz dan Ben telah tumbuh dari anak-anak yang menyenangkan menjadi pria dewasa yang payah. Mereka sungguh memesona, luar biasa seksi, dan betul-betul tak tertahankan, tapi juga pengangguran berat, berantakan minta ampun, dan tidak berguna. Begitu melihat ke balik penampilan luar yang menggoda, pasti tidak ada wanita cerdas yang dapat dibujuk untuk menerima salah satu di antara mereka untuk seumur hidup, kan?

Tapi Cassie bertekad mewujudkan permohonan terakhir Phoebe...

Rabu, 31 Oktober 2012

First Boyfriend

Bagian 1
           
            Akhirnya aku kembali. Kali ini dengan cerita yang membuatku selalu teringat pada satu sosok yang mungkin tidak begitu special di pandangan orang lain. Hafiz. Ya, itulah namanya. Setiap kenangan yang kulewati bersamanya, tak pernah ada satu pun yang terlupa. Dari awal perkenalanku dengannya sampai detik ini.
            Cerita ini berawal di stasiun kota kecilku. Bertugas menunggu kereta yang datang untuk membantu para penumpang, itulah yang sedang kami lakukan para anggota pramuka. Disitulah saat aku bertemu dengan Hafiz. Dia terlihat “keren” dengan seragam Saka Bahari-nya. Kami sempat berkenalan sebentar, dan teman-temanku sudah mulai berbisik-bisik. Tapi jujur aku tak mengharap yang lebih dari sebuah perkenalan kecil itu.
            Setelah peristiwa di stasiun, aku hanya sekedar mengingat sepercik kenangan kecil itu. Namun, beberapa hari kemudian ada sebuah sms yang sedikit mengejutkan.

Riri..
Ini Hafiz, disimpen ya nomerku :)

            Seulas senyum tersungging. Perasaan senang itu tak terpungkiri. Dan aku pun mulai berteman dengannya. Ternyata dia sosok yang cuek, temperamen, dan nggak mau mengalah. Benar-benar persis seperti seseorang yang pernah kusuka. Aku sering komunikasi dengannya dan juga sering bertemu karena kegiatan pramuka. Tanpa ku tahu sedikit perasaan suka tumbuh di hatiku.
            Dies Natalis SMA Negeri 1 diadakan. Banyak teman-teman pramuka yang juga berkunjung. Tapi Hafiz tidak datang. Dia hanya menemaniku lewat pesan-pesannya yang semakin sering. Dan hari itu sebutan kami bukan sekedar nama lagi, tapi berubah menjadi “sayang”. Sejak dulu aku paling anti dengan kata itu. Nggak tau kenapa aku begitu menjaga perasaanku untuk tidak menyukai seorang cowok apalagi pacaran. Yaaa tapi adalah beberapa cowok yang sempat aku kagumi.
            Tanggal 23 September 2012, diadakan acara Persari SD se-kota/kab. Disana aku membantu sebagai panitia bersama Hafiz juga. Sebenarnya kami bersama-sama bertugas pada Siaga Menyanyi, namun karena kekurangan personil Hafiz akhirnya pindah ke sie lain. Nggak tau apa yang membuatku menjadi gelisah. Dari awal aku berniat menjadi panitia untuk berbhakti sebagai pramuka juga menambah teman. Tapi saat itu pikiranku benar-benar hanya terpaku pada Hafiz. Apalagi aku tidak bertemu dia sama sekali hari itu.
            Sepertinya arti pertemanan di antara kami berubah semenjak hari itu. Pulang Persari tiba-tiba aku menerima pesan dari Hafiz.

Ri, mulai sekarang kita nggak usah berhubungan lagi ya..
Aku ngerasa nggak enak, temen-temen kamu jg mgkn krg suka ma aku
Kamu jgn sms aku lagi, seneng bias kenal kamu :(

Rabu, 24 Oktober 2012

TEDDY BEAR

Oleh Rai Inamas Leoni


Aku menatap kosong lembar jawaban matematika diatas mejaku. Semua rumus yang aku pelajari semalam menguap begitu saja. Kulirik jam dinding, tinggal sepuluh menit untuk menyelesaikan lima soal ini. Sementara beberapa siswa sudah selesai mengerjakan soal dan mulai meninggalkan bangku mereka. Kupandangi kertas jawabanku, tak ada yang berubah. Tetap kertas putih yang hanya tertulis lima soal tanpa jawaban. Aku tertunduk lesu lalu perlahan kupejamkan mataku. Berharap semua bisa berubah…

***

Prang!!!! Bunyi vas bunga terdengar nyaring menyentuh lantai . Otak ku segera memperoses apa yang terjadi. Aku tau suara vas berasal dari ruang tamu dan tentu saja Ayah pasti kalah judi sialan itu. Buru-buru aku mengunci pintu kamar rapat-rapat. Kupeluk kamus Bahasa Inggris ku, berharap benda ini dapat melindungiku dari sesuatu. Mengingat sebulan terakhir keadaan rumah tak ubahnya seperti neraka.

“Dasar anak tak tau diri!! Sudah Ayah bilang untuk berhenti sekolah dan mulai mencari pekerjaan. Lihat kalau begini nasi pun tak ada!!” Teriak Ayah dari ruang tamu. Kudengar Ayah mulai membanting sesuatu lalu memaki segala jenis penghuni kebun binatang.

“Dimana kamu Tasya?! Tasya!!!” Ayah mulai kehilangan kendali. Detik berikutnya pintu kamarku yang menjadi sasaran. Ayah mulai menggedor pintuku dan mulai meneriaki segala ancaman jika aku tidak membukakan pintu. Percuma Ayah, aku selalu berlajar dari pengalaman, aku tak mau teman-temanku melihat pipiku memar lagi. Ujarku dalam hati.

Aku menghela nafas lalu berjalan menuju tempat tidurku yang terlihat kontras dengan boneka Teddy Bear milik ku. Teriakan Ayah kujadikan sebagai sebuah nyanyian gratis. Sejenak aku memandangi kamar kecil yang baru setahun kutempati.Beda sekali dengan kamarku yang dulu. Walau bukan dari keluarga kaya raya namun kamarku yang dulu berisi fasilitas lengkap seperti lemari, komputer, meja belajar bahkan TV walaupun 14 inci. Sedangkan kamar ini hanya terdapat ranjang kecil yang sudah kusam dan lemari tua di sudut ruangan.

“Hidup yang kejam!” Tanpa sadar aku bergumam pada diri sendiri. Buru-buru aku menutup mulutku dengan boneka Teddy Bear. Rasanya Ayah mendengar ucapanku tadi.

“Ayah tau kamu ada di dalam!! Buka pintunya!!” Ayah berteriak lagi. Namun teriakannya kali ini lebih mirip orang yang sedang mengigau. Rupanya hari ini Ayah terlalu banyak minum. “Tau begini aku tak akan mengadopsi anak brengsek ini. Dasar anak sialan!” Usai berkata demikian, Ayah mulai bernyanyi lagu-lagu yang tak pernah kudengar lalu beranjak pergi menuju ruang tamu. Sudah menjadi kebiasaan Ayah menyanyikan lagu-lagu yang aneh jika sedang mabuk berat. Dan kalimat terakhir yang diucapkan Ayah, juga karena efek alkohol bukan?

“Karena anak sialan itu istriku kabur dengan lelaki lain, usaha yang kubangun susah payah juga bangkrut karenanya.” Sejenak Ayah tertawa. “Benar-benar anak pembawa sial. Pantas orang tua kandungnya tak mau mengasuhnya…” Ujar Ayah seolah-olah berbicara dengan orang lain.Aku membeku mendengar ucapan Ayah.Sakit rasanya mendengar hal yang selama ini tak ingin aku dengar.

I LOVE YOU, GOODBYE

Oleh Bella Danny Justice

Aku memandangi foto tersebut beberapa saat. “Hanna, i’ll keep you on my mind... we will meet again someday. Goodbye...” Ucapku dengan memegang erat selembar foto di tangan kanan lalu menempalkannya di dada.

“Hanna!!” mimpi itu lagi! sudah beberapa kali aku bermimpi seperti itu.


“aku tidak tau mengenai Hanna semenjak kepindahannya. Lagipula, kenapa kau baru mencarinya sekarang? Terakhir kali aku bertemu Hanna 2 tahun yang lalu, ia bercerita kepadaku bahwa keluargamu tidak menyetujui hubungan kalian. Karena itu kah kau meninggalkan Hanna ke Paris ?” Celotehan Irina membuatku benar-benar merasa bersalah. Saat ini aku membutuhkan dukungan, bukan nasehat-nasehat yang memojokkan posisiku. Pergi ke Paris juga bukanlah keinginanku. Tetapi, jika aku tidak melakukannya aku akan lebih melukai Hanna.

“Irina, aku datang kepadamu untuk menanyakan keberadaan Hanna, bukan untuk mendengarkan ocehanmu! Kau tidak tau apa pun mengenai aku, jadi jangan pernah berkata seolah-olah aku yang paling bersalah dalam hal ini!” bentakku padanya. Irina menghampiriku, kemudian aku merasa cairan bening mengalir dari atas membasahi kepalaku. Wanita itu menyiramku dengan segelas air putih! “apa-apaan kau Irina?!”

Ia tersenyum sinis. Matanya menatapku tajam penuh rasa kebencian. “kenapa kau hanya mencintainya Evan?! Aku menyukaimu lebih dari Hanna!! Kalau wanita yang kau puja-puja itu memang mencintaimu, mengapa dia pergi?! Mengapa dia tidak tetap diam menunggmu seperti yang aku lakukan selama ini?! Aku bisa memberikanmu kasih sayang yang tidak pernah Hanna berikan kepadamu Evan!” ucapan Irina membuatku bergidik. Wanita itu sungguh menakutkan. Ia terlalu terobsesi terhadapku yang tidak pernah menyukainya sedikitpun. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil langkah seribu meninggalkan rumahnya.

Tampaknya datang pada Irina adalah keputusan yang salah. Tapi hanya dia satu-satunya yang tersisa. Semua orang yang dekat atau pernah dekat dengan Hanna sudah aku kunjungi rumahnya satu per satu, namun mereka juga tidak mengetahui keberadaan wanita yang sangat ku cintai itu.

Aku mulai putus asa. Aku tidak tau lagi harus berbuat apa dan pergi kemana untuk mencarinya. Akhirnya aku memutuskan untuk menenangkan diri ke tempat aku dan Hanna biasa berkunjung. Duduk di tepi pantai dan menatap lautan luas adalah kegemaran kami. Namun rasanya kini tidak sama seperti dulu. Sekarang Hanna tidak ada di sampingku, ia pergi entah kemana tanpa meninggalkan jejak.

Langit biru yang cerah mulai berubah warna menjadi oranye kekuningan. Tidak terasa aku sudah berjam-jam duduk di tepi pantai ini. Aku seperti orang bodoh. Menunggu dan berharap Hanna akan datang dan tersenyum kepadaku. Hanna, aku harus menjelaskan padamu alasan aku meninggalkanmu dan memintamu untuk menunggu tanpa waktu yang jelas, tapi di mana dirimu saat ini?

Ckrek!

Tiba-tiba saja aku melihat kilatan lampu flash. Tampaknya seseorang telah mengambil fotoku dari belakang tanpa sepengetahuanku. Aku membelokkan badanku dan ternyata dugaanku benar! “apa yang kau lakukan?! Aku tidak suka seseorang memotretku tanpa izin!” wanita itu tidak memedulikanku dan masih menatapi kamera DSLR-nya.

“ah, oh, maaf, aku tidak sengaja memotretmu. Hanya saja kau terlihat begitu menyatu dengan objek sekitar. Kalau kau keberatan kau boleh menghapusnya.” Ia perlahan menghampiriku. Ia menyodorkan kameranya ke arahku. “ini, hapuslah sendiri fotomu.” Ujarnya.

Entah perasaan apa yang menghinggapiku. Aku tidak suka seseorang mengambil fotoku tanpa izin terlebih dengan orang yang tidak ku kenal. Tetapi kali ini berbeda. Aku ingin mengambil kamera itu dan menghapusnya tapi aku tidak bisa. Hatiku berkata untuk tidak menghapusnya. “tidak perlu. Kau bisa menyimpannya.” Kataku berusaha bersikap acuh.

“sungguh?! Terimakasih! Oya, siapa namamu?” wanita itu tersenyum riang.

Tanpa sadar aku bersama dengannya sepanjang sore. Kami berbincang-berbincang tentang banyak hal hingga larut. Dan selama itu aku tidak memikirkan Hanna. Kehadiran wanita bernama Kelly yang mempunyai hobby fotografi itu telah membuatku merasa semakin bersalah terhadap Hanna. Bisa-bisanya aku bersama wanita lain dan melupakannya. Aku tidak tau, sungguh... semua mengalir begitu saja. Hanna, aku harap kau tidak marah padaku jika kau mengetahui ini. Aku hanya mencintaimu seorang.

Jumat, 06 April 2012

To : YOU

Kau datang tiba-tiba ..

Setelah sekian lama tak berkabar


Hanya sesaat kita mengenang masa lalu

Hanya sesaat aku merasa begitu hidup dengan hadirnya dirimu

Tapi, semua kembali seperti dulu ..


Kau pergi begitu saja

Seolah waktu sesaat itu hanya mimpi belaka

Apa yang kau lakukan padaku?

Apa arti semua ini?

Apa kau datang hanya untuk meninggalkan luka?


Terima kasih kau sempat kembali

Walau sebentar, namun itu akan sangat membekas untukku ..

 

by: Risma

Blogger templates